Semua berjalan seperti sedia kalanya. Hari itu kami kedatangan seorang tamu yaitu Pendeta dari Australia yang aku lupa namanya siapa. Selama beliau memberikan Firman Tuhan, aku terkantuk-kantuk di dalam Gereja, maklum semalam susah tidur karena sudah terbiasa tidur larut malam bahkan sampai subuh dan Khotbah dari beliau juga tidak begitu menarik, bukan karena materi yang disampaikan, tetapi mungkin karena cara penyampaiannya yang sangat monoton.
Akhirnya Firman Tuhan telah selesai disampaikan oleh Bapak Pendeta. Bapak Gembala Gereja kami pun mulai mengambil alih acara. Kemudian kami kembali bernyanyi, dan sesuatu yang sangat spesial buatku saat itu adalah ketika kami semua disuruh bergandengan tangan dengan orang-orang yang ada disebelah kanan dan kiri sambil menyanyikan lagu. Wah disebelah kiriku ada seorang pria yang asing bagiku karena memang tidak mengenalnya. Tetapi alangkah senangnya ketika aku menyadari kalau di sebelah kananku ada dia. Sebut saja namanya “T“.
T adalah sahabatku. Ya kami datang ke Gereja bersama-sama, tetapi kami tidak hanya berdua saja. Ada satu lagi sahabatku yaitu “I“. T dan I sangat dekat karena memang mereka sahabat dekat. Kembali ke moment bergandengan tangan. T duduk tepat di sebelah kananku, dan I duduk di sebelah kanan T. Alangkah senangnya ketika aku menyadari bahwa aku akan bergandengan tangan dengan T. Entah kenapa jantungku berdegup lebih kencang, ada apa dengan diriku???
Ya memang dari dulu aku menjadi pengagum rahasia T. Aku mengakuinya bahwa aku memang menyukainya, aku sangat menyayanginya, bahkan mungkin aku amat sangat mencintainya sehingga aku takut akan kehilangan dirinya, tetapi selama ini aku tidak pernah mengungkapkannya. Ya seperti tulisan-tulisanku sebelumnya aku takut mengungkapkan perasaan itu karena dia memang sahabatku, dan aku tidak mau kehilangannya hanya karena aku mengungkapkan perasaanku padanya. Biarlah perasaan itu akan kupendam walaupun terkadang aku merasa tidak mampu asalkan aku tetap dapat menjadi sahabatnya sehingga aku tetap dapat dekat dengannya, itu kurasa mungkin cukup.
Balik lagi ke ceritaku. Saat itulah pertama kalinya aku menggenggam erat tanganya. Jantungku berdegup kencang seiring dengan lantunan lagu yang mulai bertambah cepat, darahku serasa berhenti mengalir. Kurasakan lembut tangannya, tak mau kulepaskan, ingin ku pegang erat tangan itu. Tangannya yang putih terasa sangat dingin, apa mungkin itu karena tanganku yang dingin??? Ah… Whatever… Aku tidak peduli, aku terbuai dalam mimpi indahku dan tidak ingin cepat-cepat beranjak bangun, sayangnya hal ini terasa sangat cepat berlalu. Dalam hatiku berkata “Yah… Lagunya kok udah selesai sih???”
Akhirnya dengan berat hati aku melepaskan genggamanku. Kami pun melanjutkan ibadah kami dengan Perjamuan Kudus. Roti dan sirup Anggur pun mulai dibagikan. Bapak Gembala Gereja kami berkata “Kita adalah satu bagian, kita semua saudara. Sebelum kita memakan Roti ini, mari kita tukarkan dengan saudara-saudara yang ada di sebelah kita”. Ya kurang lebih seperti itulah perkataan beliau. Wah jantungku mulai berdegup kencang lagi, dalam hatiku berkata “Apa dia(T) akan menukarkannya denganku???”.
Ternyata tidak. Dia menukarkannya dengan I. Yah aku merasa sedikit kecewa. Tapi kemudian aku berpikir “Tidak apalah, ini hanyalah sebuah Roti. Lagian kalau kita bertukaran, kasian I”. Akhirnya aku bertukaran dengan orang asing di sebelah kiriku. Ibadah pun selesai, kami langsung melanjutkan perjalanan kami ke tempat makan dan pusat perbelanjaan untuk membeli kado buat sebut saja “J“.
T dan I sibuk mencari-cari kado di pusat perbelanjaan, sedangkan aku bingung mau ngapain. Hampir satu jam kami berputar-putar tidak mendapatkan apa-apa, akhirnya kami pindah tempat. T sibuk mencari-cari kado buat J, aku kemudian merasa cemburu karena di tempat kami bekerja pun T dan J sangat dekat. Ya memang mereka sahabat juga, tetapi aku merasa kalau J menaruh perhatian kepada T. J memang orang yang baik, tetapi aku tidak terlalu dekat dengannya.
Selama itu aku hanya menjadi ekor mereka, mengikuti dari belakang. Ketika mereka mendapatkan baju yang menurut mereka bagus, aku disuruh mencobanya. It’s ok jadi model sehari hahahahahaha… Tetapi T terkadang berkata “Ntar gak bagus dipake” ntar ini, ntar itu, whatever!!! Aku cemburu!!! Ya sangat cemburu seperti pada tulisanku sebelumnya. Apa-apa selalu saja menyangkut pautkan J. Siapa sih loe??? Emang sih J itu orangnya baik, tapi lihat donk orang lain yang ada di sekelilingmu bukan hanya J doank. Apa aku masih kurang baik??? Aku harus gimana lagi??? Ngomong donk… Kamu gak tau sih gimana perasaanku… Kalau aku mengunggapkan perasaanku terus kamu menjauh, aku akan sangat menyesal… Tapi kalau seperti ini aku juga menyesal… Aku harus gimana???
Sampai detik ini kemelut dalam hatiku sangat menyakitkan karena aku tidak tahu harus memilih langkah yang mana. Biarlah waktu yang akan menjawabnya. Aku sudah tidak tahu lagi…
