Dimataku kamu sangat spesial. Kamu memang terlalu sempurna tuk kumiliki, tapi aku tidak dapat berbohong bahwa aku sangat menginginkanmu selalu disisiku. Terkadang sebenarnya perbedaan pendapat itu sengaja kubuat hanya untuk menarik perhatianmu saja. Bagaimana aku harus mendekatimu dengan cara yang wajar? Ketika aku berkata sedikit gombal, kamu tidak suka. Ketika aku mengajak ngobrol, kamu sangat sibuk dengan kerjaanmu karena kamu memang orang yang gila kerja. Jadi hanyalah perdebatan dan pertengkaran yang dapat aku lakukan untuk menarik perhatianmu.
Pada saat di milis kantor kita, bukan maksudku untuk menghinamu dengan menulis kamu “cacat mental” dan sekarang menjadi “cacat fisik”. Aku hanya ingin sedikit bercanda ditengah-tengah padatnya pekerjaan yang menumpuk, hanya untuk menghilangkan penat. Setelah kutanyakan kepada teman-temanku yang lainnya, mereka berkata aku memang bercanda, tetapi mungkin bahannya yang tidak tepat dan sedikit kasar. Oh My God. Aku salah memilih bahan untuk bercanda. Maafin aku yah. Aku benar-benar tidak ada maksud jahat sedikitpun. Bagaimana bisa aku bermaksud jahat padamu? Kamu adalah orang yang paling kuinginkan saat ini. Dirimu adalah orang yang paling aku sayangi.
Maaf, maaf, maaf. Sungguh aku memang bodoh, membuatmu kesal. Padahal seharusnya aku dapat membuatmu bahagia. Aku bingung. Aku kacau. Sekali lagi maaf.
